Reel Density Analysis Kepadatan Simbol Mahjong Ways 2 Scatter Trigger Mapping Free Spin Mahjong Ways 2 Symbol Volatility Study Pola Pembayaran Mahjong Ways 2 Grid Expansion Effect Multiplier Mahjong Ways 2 Wild Frequency Mapping Distribusi Simbol Wild Mahjong Ways 2 Cluster Formation Index Pembentukan Klaster Simbol Mahjong Ways 2 Reel Transition Pattern Mode Free Spin Mahjong Ways 2 Multiplier Growth Model Dinamika Pengali Mahjong Ways 2 Symbol Drop Probability Probabilitas Simbol Tinggi Mahjong Ways 2 Spin Cycle Observation Pola Siklus Spin Mahjong Ways 2 Analisis Pola Momentum Spin Mahjong Wins 3 Fase Potensial Pendekatan Observatif Transisi Ritme Gates of Olympus Studi Dinamika Simbol Wild Konsistensi Sesi Digital Strategi Adaptif Pola Sesi Panjang Mahjong Wins 3 Analisis Sinkronisasi Visual Ritme Gates of Olympus Membaca Pola Scatter Aktif Indikator Perubahan Fase Pendekatan Sistematis Identifikasi Stabilitas Sesi Slot Digital Peran Variasi Tempo Spin Alur Permainan Mahjong Wins 3 Analisis Perubahan Pola Simbol Momentum Gates of Olympus Studi Ritme Interaksi Simbol Dinamika Sesi Digital

LPM GRAFFITY

Media Pers Mahasiswa IAIN Palopo

Mahasiswa, Masihkah Menjadi Agen Perubahan atau Sekadar Penonton?

lmpgraffity.com-Mahasiswa sejak dahulu dikenal sebagai agen perubahan. Mereka menjadi garda terdepan dalam menyuarakan aspirasi rakyat, turun ke jalan memperjuangkan keadilan, dan menciptakan gelombang perubahan besar bagi bangsa. Sejarah mencatat bahwa banyak peristiwa penting yang mengubah arah negeri ini berawal dari kampus, ruang-ruang diskusi, hingga aksi nyata di lapangan.

Namun, kini di tengah krisis moral, sosial, dan ekonomi yang kembali melanda, suara mahasiswa seolah semakin sunyi. Pertanyaannya, apakah mahasiswa masih menjalankan perannya sebagai agen perubahan, ataukah telah berubah menjadi penonton yang hanya diam menyaksikan keadaan?

Di era digital seperti sekarang, banyak mahasiswa yang justru lebih aktif di media sosial daripada di kehidupan nyata. Mereka sibuk membuat konten, mengejar popularitas, dan larut dalam budaya instan yang menekankan citra daripada substansi. Padahal, kampus menyediakan ruang yang luas untuk tumbuh dan berkembang, salah satunya melalui organisasi kemahasiswaan.

Sayangnya, tidak sedikit mahasiswa yang memandang organisasi hanya sebagai formalitas, sekadar menambah daftar prestasi atau bahkan sebagai ajang bergaya. Padahal, organisasi kampus merupakan wadah yang ideal untuk membentuk karakter kepemimpinan, melatih pola pikir kritis, menumbuhkan kemampuan kerja sama, serta meningkatkan kepekaan sosial. Lewat organisasi, mahasiswa dapat bersentuhan langsung dengan realitas sosial di sekitarnya, bukan hanya berkutat pada tugas akademik yang bersifat individual.

Memang, masih ada mahasiswa yang aktif dan sungguh-sungguh ingin membawa perubahan. Namun jumlah mereka belum sebanding dengan potensi besar yang dimiliki generasi kampus saat ini. Banyak ruang organisasi yang kini kosong dan kekurangan peminat. Apakah kita rela melihat kampus hanya menjadi tempat mencetak sarjana tanpa melahirkan pemimpin masa depan?

Sudah saatnya mahasiswa bangkit dan menjadikan organisasi kampus sebagai sarana perjuangan, bukan sekadar pelengkap aktivitas perkuliahan. Karena jika mahasiswa hanya menjadi penonton, lalu siapa lagi yang akan menjaga nyala semangat perubahan itu?

 

Penulis: Ashar

Editor: Mas’un (Pimpred)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Belum ada komentar disini
Jadilah yang pertama berkomentar disini
26 views