Reel Density Analysis Kepadatan Simbol Mahjong Ways 2 Scatter Trigger Mapping Free Spin Mahjong Ways 2 Symbol Volatility Study Pola Pembayaran Mahjong Ways 2 Grid Expansion Effect Multiplier Mahjong Ways 2 Wild Frequency Mapping Distribusi Simbol Wild Mahjong Ways 2 Cluster Formation Index Pembentukan Klaster Simbol Mahjong Ways 2 Reel Transition Pattern Mode Free Spin Mahjong Ways 2 Multiplier Growth Model Dinamika Pengali Mahjong Ways 2 Symbol Drop Probability Probabilitas Simbol Tinggi Mahjong Ways 2 Spin Cycle Observation Pola Siklus Spin Mahjong Ways 2 Analisis Pola Momentum Spin Mahjong Wins 3 Fase Potensial Pendekatan Observatif Transisi Ritme Gates of Olympus Studi Dinamika Simbol Wild Konsistensi Sesi Digital Strategi Adaptif Pola Sesi Panjang Mahjong Wins 3 Analisis Sinkronisasi Visual Ritme Gates of Olympus Membaca Pola Scatter Aktif Indikator Perubahan Fase Pendekatan Sistematis Identifikasi Stabilitas Sesi Slot Digital Peran Variasi Tempo Spin Alur Permainan Mahjong Wins 3 Analisis Perubahan Pola Simbol Momentum Gates of Olympus Studi Ritme Interaksi Simbol Dinamika Sesi Digital

LPM GRAFFITY

Media Pers Mahasiswa IAIN Palopo

Krisis Kepemimpinan Kampus: Dominasi Kepentingan Kelompok dan Suara Mahasiswa

lpmgraffity.com-Ditengah dinamika kehidupan kampus saat ini, kita menyaksikan sebuah fenomena yang memperihatinkan, degradasi kepemimpinan yang disebabkan oleh pengaruh organisasi ekstra dan kepentingan kelompok tertentu. Fenomena ini menciptakan suasana di mana aturan dan regulasi, termasuk Anggaran Dasar/Anggaran Rumah Tangga (AD/ART) serta kebijakan Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi (Dirjen Dikti), sering kali diabaikan atau dimanipulasi untuk mendukung calon pemimpin tertentu.

Kampus yang seharusnya menjadi laboratorium intelektual kini menghadapi krisis kepemimpinan. Banyak pemimpin kampus lebih fokus pada proyek-proyek yang menguntungkan secara finansial daripada memenuhi kebutuhan akademik mahasiswa. Hal ini menciptakan kesenjangan antara tujuan pendidikan dan praktik yang terjadi di lapangan. Ketidakpuasan mahasiswa sering kali terabaikan, dengan pemimpin yang bersikap acuh terhadap kritik dan masukan.

Organisasi ekstra kampus berperan dalam mempengaruhi dinamika kepemimpinan. Mereka sering kali menggunakan kekuatan kolektif untuk mendukung atau menolak calon pemimpin berdasarkan kepentingan tertentu, bukan berdasarkan kriteria objektif yang seharusnya. Dalam banyak kasus, keputusan yang diambil tidak mencerminkan aspirasi seluruh civitas akademika, melainkan hanya segelintir orang yang memiliki agenda pribadi.

Mahasiswa, yang seharusnya menjadi agen perubahan, kini terjebak dalam situasi di mana suara mereka tereduksi. Mereka tidak hanya menghadapi tantangan dalam belajar, tetapi juga dalam berpartisipasi secara aktif dalam proses pengambilan keputusan di kampus. Kelemahan daya kritis mahasiswa semakin terlihat akibat kurangnya dialog dan diskusi tentang isu-isu penting yang mempengaruhi kehidupan akademik mereka.

Situasi ini menciptakan lingkungan di mana transparansi dan akuntabilitas menjadi langka. Kampus harus kembali ke esensi sebagai tempat pengembangan intelektual dan moral, bukan sekadar arena bagi kepentingan politik tertentu. Diperlukan upaya kolektif dari semua elemen kampus untuk mengembalikan fungsi kampus sebagai pendorong perubahan sosial dan moral dalam masyarakat.

Penulis: Dandi Ishak

Editor: Mas’un

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Belum ada komentar disini
Jadilah yang pertama berkomentar disini
26 views