PUISI: Ontologis Sang Mahasiswa

0
Dok: Zul Gala/Mahasiswa IAIN Palopo/lpmgraffity.com

Aku berkubu pada identitas, yang membungkus nalar pada realitas,
Ku duduk termenung mendengarkan wejangan dan ceramahmu yang mengukuhkan kenyakinanku di ruangan kelas

Entah wacanamu asli, palsu atau hanya sekedar penghias.
Ataukah Mungkin hanya patuh pada asas tapi culas.

Sembari itu, Kini disudut lorong kampus, kulihat mahasiswa sedang berdiskusi sebagai tanda peringatan untuk rezim yang tak waras.

Kini Para Mahasiswa bersuara, bersuara katanya membangkang.
Karena Mahasiswa katanya masih jauh dari kata orang.

Nasib diancam pada ujung pena sang pemangku jabatan.
Dipaksa diam, dipaksa bungkam

Tapi…Jika kami diam, maka tak ada lagi yang akan mendengarkan tangisan dibawah pantat jembatan.

Jika kami bungkam….Maka tak akan ada lagi yang peduli kepada jejeran kepala yang mengais rejeki dipinggir jalan.

Lihatlah!
Lihatlah ke atas!

Langit-langit kota mendung kelabu, seolah-olah mendukung suara minor yang dibersembunyi didalam kelambu.
Tangis Haru yang ku dengar menderu-deru.
Sebagai pelipur lara dalam kalbu,
Puisi ini bukan hanya untuk Pengampu, tapi juga untuk penyeru.

Hei…Teruntuk kau!
Wahai kesatria masa depan.
Apakah kau tak pandai membaca keadaan?
Ataukah memang kau sengaja tak memperhatikan?

Bangunlah, Bergeraklah, dan Sadarlah!!!

Kenapa kau yang katanya cendikia, tapi terlalu berkutat pada selembar nilai, tapi tugas besarmu terbengkalai?
Celoteh, dan narasimu seolah-olah telah di stempel diatas materai.
Lalu kau berpongah pada diri tapi terhempas pada badai.

Numpang tenar, dasar tak benar!

Miris!
Apatis!
Untuk kau yang bersetubuh dengan Kaum Bengis!

PadangSappa 2021.

Zulkarnain

Editor : (Kud..)