Reel Density Analysis Kepadatan Simbol Mahjong Ways 2 Scatter Trigger Mapping Free Spin Mahjong Ways 2 Symbol Volatility Study Pola Pembayaran Mahjong Ways 2 Grid Expansion Effect Multiplier Mahjong Ways 2 Wild Frequency Mapping Distribusi Simbol Wild Mahjong Ways 2 Cluster Formation Index Pembentukan Klaster Simbol Mahjong Ways 2 Reel Transition Pattern Mode Free Spin Mahjong Ways 2 Multiplier Growth Model Dinamika Pengali Mahjong Ways 2 Symbol Drop Probability Probabilitas Simbol Tinggi Mahjong Ways 2 Spin Cycle Observation Pola Siklus Spin Mahjong Ways 2 Analisis Pola Momentum Spin Mahjong Wins 3 Fase Potensial Pendekatan Observatif Transisi Ritme Gates of Olympus Studi Dinamika Simbol Wild Konsistensi Sesi Digital Strategi Adaptif Pola Sesi Panjang Mahjong Wins 3 Analisis Sinkronisasi Visual Ritme Gates of Olympus Membaca Pola Scatter Aktif Indikator Perubahan Fase Pendekatan Sistematis Identifikasi Stabilitas Sesi Slot Digital Peran Variasi Tempo Spin Alur Permainan Mahjong Wins 3 Analisis Perubahan Pola Simbol Momentum Gates of Olympus Studi Ritme Interaksi Simbol Dinamika Sesi Digital

LPM GRAFFITY

Media Pers Mahasiswa IAIN Palopo

PUISI: Ontologis Sang Mahasiswa

Dok: Zul Gala/Mahasiswa IAIN Palopo/lpmgraffity.com

Aku berkubu pada identitas, yang membungkus nalar pada realitas,
Ku duduk termenung mendengarkan wejangan dan ceramahmu yang mengukuhkan kenyakinanku di ruangan kelas

Entah wacanamu asli, palsu atau hanya sekedar penghias.
Ataukah Mungkin hanya patuh pada asas tapi culas.

Sembari itu, Kini disudut lorong kampus, kulihat mahasiswa sedang berdiskusi sebagai tanda peringatan untuk rezim yang tak waras.

Kini Para Mahasiswa bersuara, bersuara katanya membangkang.
Karena Mahasiswa katanya masih jauh dari kata orang.

Nasib diancam pada ujung pena sang pemangku jabatan.
Dipaksa diam, dipaksa bungkam

Tapi…Jika kami diam, maka tak ada lagi yang akan mendengarkan tangisan dibawah pantat jembatan.

Jika kami bungkam….Maka tak akan ada lagi yang peduli kepada jejeran kepala yang mengais rejeki dipinggir jalan.

Lihatlah!
Lihatlah ke atas!

Langit-langit kota mendung kelabu, seolah-olah mendukung suara minor yang dibersembunyi didalam kelambu.
Tangis Haru yang ku dengar menderu-deru.
Sebagai pelipur lara dalam kalbu,
Puisi ini bukan hanya untuk Pengampu, tapi juga untuk penyeru.

Hei…Teruntuk kau!
Wahai kesatria masa depan.
Apakah kau tak pandai membaca keadaan?
Ataukah memang kau sengaja tak memperhatikan?

Bangunlah, Bergeraklah, dan Sadarlah!!!

Kenapa kau yang katanya cendikia, tapi terlalu berkutat pada selembar nilai, tapi tugas besarmu terbengkalai?
Celoteh, dan narasimu seolah-olah telah di stempel diatas materai.
Lalu kau berpongah pada diri tapi terhempas pada badai.

Numpang tenar, dasar tak benar!

Miris!
Apatis!
Untuk kau yang bersetubuh dengan Kaum Bengis!

PadangSappa 2021.

Zulkarnain

Editor : (Kud..)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Belum ada komentar disini
Jadilah yang pertama berkomentar disini
23 views