Bedah Buku Laut Bercerita: Refleksi Sastra Sejarah dan Peran Mahasiswa di Tengah Pola Zaman yang Berulang
lpmgraffity.com-Palopo, 04/04/2026— Diskusi publik dalam format bazar dialog yang membedah novel Laut Bercerita karya Leila S. Chudori berlangsung sukses dan penuh muatan reflektif pada malam minggu. Kegiatan ini menghadirkan ruang intelektual yang tidak hanya membahas karya sastra, tetapi juga mengaitkannya dengan realitas sejarah dan posisi mahasiswa hari ini.
Diskusi diawali dari perspektif sastra dan literasi yang menyoroti kekuatan gaya penulisan dalam novel tersebut. Andi Batara Andri menjelaskan bahwa karya ini tidak hanya dibangun dengan bahasa yang puitis dan emosional, tetapi juga berangkat dari riset yang kuat. Penulisan yang lugas dan terang-terangan dalam menarasikan peristiwa menjadikan Laut Bercerita tidak sekadar karya fiksi, melainkan juga bentuk keberanian dalam menyampaikan realitas yang pernah terjadi.
Pendekatan ini memperlihatkan bahwa sastra mampu menjadi medium yang tidak hanya menggerakkan emosi, tetapi juga membangun kesadaran. Melalui narasi yang jujur dan mendalam, pembaca diajak untuk tidak sekadar memahami cerita, tetapi juga merasakan dan merefleksikan luka yang dihadirkan dalam teks.
Selanjutnya, dalam perspektif sejarah, diskusi mengarah pada pemahaman bahwa peristiwa yang tergambar dalam novel bukanlah sesuatu yang berdiri sendiri, melainkan bagian dari dinamika sejarah bangsa. Ikbal Fakula menekankan bahwa sejarah sering kali menunjukkan pola yang berulang, terutama dalam hal relasi antara kekuasaan dan suara kritis masyarakat.
Ketika ingatan kolektif mulai memudar, maka potensi terulangnya ketidakadilan menjadi semakin besar. Oleh karena itu, karya seperti Laut Bercerita memiliki peran penting sebagai pengingat—bahwa sejarah bukan untuk dilupakan, melainkan untuk dipahami agar tidak terulang kembali dalam bentuk yang berbeda.
Pada perspektif aktivis mahasiswa, diskusi berkembang menjadi refleksi terhadap peran mahasiswa di masa kini. Jika dalam sejarah mahasiswa dikenal sebagai agen perubahan yang berani bersuara, maka hari ini muncul pertanyaan tentang sejauh mana peran tersebut masih dijalankan.
Mutiara Salsabila menyoroti adanya kecenderungan pergeseran nilai di kalangan mahasiswa, dari gerakan kolektif menuju sikap yang lebih pragmatis dan individual. Dalam konteks ini, Laut Bercerita menjadi pengingat bahwa keberanian, solidaritas, dan keberpihakan pada kebenaran merupakan esensi yang tidak boleh hilang dari identitas mahasiswa.
Kegiatan ini ditutup dengan refleksi mendalam dari moderator Novi Rahmadona yang mengutip salah satu kalimat dalam novel yang menggugah kesadaran peserta:
“Bu, jika suatu saat aku berbuat kriminal dan membuatku tak lagi pulang ke rumah, ketahuilah, kejahatanku hanyalah sebatas membaca buku.”
Kutipan tersebut menjadi penutup yang kuat, sekaligus pengingat bahwa dalam situasi tertentu, bahkan aktivitas intelektual seperti membaca dapat dipandang sebagai ancaman. Hal ini mempertegas pentingnya menjaga ruang berpikir, kebebasan berekspresi, dan keberanian untuk memahami kebenaran.
Diskusi ini tidak hanya menjadi ajang bedah buku, tetapi juga ruang refleksi kolektif yang menghubungkan sastra, sejarah, dan realitas sosial. Melalui kegiatan ini, mahasiswa diharapkan mampu kembali mengingat perannya sebagai agen perubahan yang kritis, sadar sejarah, dan berpihak pada nilai-nilai kemanusiaan.
Penulis: Madona
Editor: Merona

Tinggalkan Balasan