Reel Density Analysis Kepadatan Simbol Mahjong Ways 2 Scatter Trigger Mapping Free Spin Mahjong Ways 2 Symbol Volatility Study Pola Pembayaran Mahjong Ways 2 Grid Expansion Effect Multiplier Mahjong Ways 2 Wild Frequency Mapping Distribusi Simbol Wild Mahjong Ways 2 Cluster Formation Index Pembentukan Klaster Simbol Mahjong Ways 2 Reel Transition Pattern Mode Free Spin Mahjong Ways 2 Multiplier Growth Model Dinamika Pengali Mahjong Ways 2 Symbol Drop Probability Probabilitas Simbol Tinggi Mahjong Ways 2 Spin Cycle Observation Pola Siklus Spin Mahjong Ways 2 Analisis Pola Momentum Spin Mahjong Wins 3 Fase Potensial Pendekatan Observatif Transisi Ritme Gates of Olympus Studi Dinamika Simbol Wild Konsistensi Sesi Digital Strategi Adaptif Pola Sesi Panjang Mahjong Wins 3 Analisis Sinkronisasi Visual Ritme Gates of Olympus Membaca Pola Scatter Aktif Indikator Perubahan Fase Pendekatan Sistematis Identifikasi Stabilitas Sesi Slot Digital Peran Variasi Tempo Spin Alur Permainan Mahjong Wins 3 Analisis Perubahan Pola Simbol Momentum Gates of Olympus Studi Ritme Interaksi Simbol Dinamika Sesi Digital

LPM GRAFFITY

Media Pers Mahasiswa IAIN Palopo

OPINI : Kampus Itu Ruang Akademik atau Arena Kampanye Politik?

Ilustrasi by Salsabilla R. Crew LPM Graffity.

lpmgraffity.comOPINI — Kampus semestinya menjadi ruang yang netral, di mana pemikiran bebas berkembang tanpa diwarnai oleh pengaruh politik praktis yang partisan. Ketika kampus membuka pintunya bagi kampanye politik, batas antara pendidikan dan propaganda menjadi kabur, dan ruang akademik yang seharusnya murni serta terbebas dari kepentingan sempit dipertaruhkan.

Dalam filsafat, Plato memperkenalkan konsep “polis” atau kota ideal, di mana pendidikan adalah fondasi utama bagi kebajikan dan pencarian kebenaran. Kampus, sebagai miniatur dari “polis” ini, adalah tempat di mana pencarian kebenaran dan keadilan menjadi orientasi utama. Mengizinkan kampanye politik di kampus tak hanya menodai nilai akademis, tetapi juga membelokkan fungsi kampus sebagai ruang belajar yang independen. Jika hari ini kampus membuka ruang bagi calon kepala daerah untuk berkampanye, maka ke depannya kampus berpotensi menjadi ajang kampanye terus-menerus.

Di sinilah bahaya sebenarnya, kampus yang dijadikan arena kampanye politik memberikan pesan bahwa pendidikan bisa diperalat oleh kekuasaan. Ini menunjukkan bahwa ruang akademik yang seharusnya independen dapat dipergunakan sebagai alat bagi kepentingan politik praktis.

Untuk menjaga kehormatan dan makna dari ruang akademik, kampus perlu teguh berpegang pada falsafahnya sebagai tempat yang bebas dari bias politik. Biarkan kampus menjadi taman pemikiran yang independen, tempat mahasiswa dapat berlatih menjadi warga negara yang berpikir bebas tanpa dibayangi kepentingan praktis yang bersifat sementara.

Lantas, pertanyaannya: Ada apa dengan kampus?

____________________

Tim Redaksi 

Penulis : I.K., (Mahasiswa)

Editor : Crew LPM Graffity 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Belum ada komentar disini
Jadilah yang pertama berkomentar disini
40 views