Ruang Kebebasan atau Pembentukan: Membaca Ulang Kehidupan Mahasiswa Hari Ini
lpmgraffity.com-Kita sering datang ke kampus dengan keyakinan yang cukup idealis, bahwa ini adalah ruang bebas untuk berpikir, menguji argumen, dan membentuk diri secara utuh. Namun semakin lama kita berada di dalamnya, semakin terasa bahwa kampus tidak hanya menjadi tempat belajar, tetapi juga ruang yang secara sistematis membentuk cara kita berpikir dan bersikap. Dalam konteks ini, apa yang pernah dijelaskan oleh Louis Althusser tentang Ideological State Apparatus (ISA) dan Repressive State Apparatus (RSA) terasa sangat relevan untuk membaca realitas mahasiswa hari ini.
Kampus bekerja sangat efektif sebagai bagian dari ISA, yaitu melalui mekanisme yang halus dan tidak terasa memaksa. Nilai, kebiasaan, standar “mahasiswa ideal”, hingga cara kita memandang benar dan salah dibentuk secara perlahan melalui kelas, organisasi, dan lingkungan sosial. Kita tidak pernah benar-benar diperintah untuk menjadi tipe mahasiswa tertentu, tetapi kita belajar sendiri bahwa untuk “dianggap baik”, kita harus rajin, aktif, tidak terlalu konfrontatif, dan mampu menyesuaikan diri dengan ritme yang ada. Dalam forum diskusi, misalnya, kita diajarkan untuk berpikir kritis, tetapi kritik yang terlalu tajam sering kali tidak mendapatkan ruang yang sama. Tidak ada larangan eksplisit, tetapi cukup dengan suasana yang berubah, respons yang dingin, atau pembahasan yang dialihkan, kita langsung menangkap sinyal bahwa ada batas yang tidak boleh dilampaui.
Hal serupa juga terlihat dalam dinamika organisasi kampus. Secara formal, organisasi dibangun atas dasar keterbukaan dan merit, tetapi dalam praktiknya ada pola yang berulang. Ada mahasiswa yang lebih cepat mendapat akses, lebih dekat dengan pusat informasi, dan lebih sering dilibatkan dalam keputusan penting. Bukan semata karena kemampuan, tetapi juga karena kedekatan, jaringan, dan posisi dalam struktur. Dalam kondisi ini, mahasiswa lain belajar satu hal penting, yaitu bagaimana menyesuaikan diri dengan sistem agar tetap relevan di dalamnya. Di sinilah ISA bekerja dengan sangat halus: kita mengikuti bukan karena dipaksa, tetapi karena kita percaya itulah cara yang “seharusnya”.
Namun ketika mekanisme halus itu tidak lagi cukup, RSA mulai terasa. RSA tidak selalu hadir dalam bentuk represif yang ekstrem, tetapi bisa muncul dalam bentuk yang lebih dekat dengan kehidupan mahasiswa. Misalnya, ketika seseorang terlalu vokal atau terlalu sering mempertanyakan, ia mulai dianggap “bermasalah”. Dampaknya tidak selalu berupa sanksi formal, tetapi bisa berupa berkurangnya akses, tidak lagi dilibatkan dalam ruang strategis, atau relasi yang perlahan menjauh. Dalam konteks akademik, kita juga bisa melihat bagaimana nilai, penilaian dosen, atau posisi di kelas secara tidak langsung menjadi alat kontrol. Tidak ada ancaman yang diucapkan secara terbuka, tetapi konsekuensinya cukup jelas untuk membuat mahasiswa berpikir ulang sebelum bertindak.
Pada akhirnya, ISA dan RSA bekerja berdampingan dalam kehidupan kampus. ISA membentuk kesadaran kita agar secara sukarela mengikuti sistem, sementara RSA memastikan bahwa ketika ada yang keluar dari pola, ada konsekuensi yang cukup untuk mengembalikan keteraturan. Yang membuatnya menarik sekaligus problematis adalah kita tetap merasa bebas. Kita merasa memilih, merasa menentukan arah sendiri, padahal dalam banyak hal, pilihan itu sudah dibingkai oleh sistem yang kita jalani setiap hari.
Maka kampus bukan hanya ruang produksi ilmu, tetapi juga ruang reproduksi cara berpikir dan cara bersikap. Dan di titik ini, pertanyaannya menjadi lebih tajam: apakah kita benar-benar sedang membentuk diri kita sendiri sebagai mahasiswa yang merdeka, atau justru sedang dilatih menjadi individu yang patuh, rapi, dan sesuai dengan kebutuhan sistem?
Penulis: Novi Rahmadona
Editor: Merona

Tinggalkan Balasan