Pancasila di Tengah Kampus yang Kehilangan Daya Kritis
lpmgraffity.com-Setiap tanggal 1 Juni, semua mendadak menjadi nasionalis di muka bumi. Khususnya di kampus, pamflet Hari Lahir Pancasila bertebaran di lini masa, ucapan penuh semangat kebangsaan bermunculan, dan semua orang tampak begitu peduli terhadap nilai-nilai luhur bangsa. Selama sehari penuh, Pancasila diperlakukan layaknya tamu kehormatan yang harus disambut dengan segala bentuk seremoni.
Setelah itu, semuanya kembali normal.
Mahasiswa kembali sibuk mengejar tanda tangan, mengurus administrasi yang berlapis-lapis, dan berlari dari satu deadline ke deadline lainnya. Organisasi kembali sibuk menghitung jumlah peserta daripada kualitas gagasan. Ruang diskusi kembali sepi. Kritik kembali dianggap terlalu berisik. Pancasila pun kembali disimpan dengan rapi sampai tanggal 1 Juni tahun depan.
Barangkali memang begitulah nasib ideologi di negeri ini. Ia lebih sering diperingati daripada dipahami, lebih sering dipajang daripada dijalankan.
Kampus, yang selama ini gemar menyebut dirinya sebagai kawah candradimuka intelektual, tampaknya juga tidak kebal dari gejala tersebut. Kita berbicara tentang demokrasi di ruang kelas, tetapi sering kali malas mendengar pendapat yang berbeda. Kita mengagungkan nilai musyawarah, tetapi lebih suka mencari siapa yang setuju daripada mencari mana yang benar. Kita membahas keadilan sosial dalam makalah dan presentasi, sementara di luar ruangan masih banyak mahasiswa yang berjuang antara membeli buku, membayar biaya kuliah, atau sekadar bertahan hidup sampai akhir bulan.
Ironinya, semua itu terjadi di lingkungan yang setiap tahun mengajarkan Pancasila sebagai dasar negara. Seolah-olah semakin sering materi itu diajarkan, semakin sedikit kebutuhan untuk benar-benar mengamalkannya.
Sila kedua berbicara tentang kemanusiaan yang adil dan beradab. Namun dalam praktiknya, tidak sedikit mahasiswa yang merasa hanya menjadi angka dalam sistem akademik yang sibuk mengejar target dan akreditasi. Sila ketiga berbicara tentang persatuan, tetapi kampus sering kali terpecah dalam sekat organisasi, kelompok, kepentingan, bahkan lingkaran pertemanan yang saling asing satu sama lain. Sila keempat menjunjung musyawarah, tetapi kritik kadang dipandang sebagai ancaman terhadap kenyamanan. Adapun sila kelima tentang keadilan sosial terasa semakin abstrak ketika pendidikan tinggi semakin mahal sementara kesempatan ekonomi setelah lulus justru semakin tidak pasti.
Mungkin masalahnya bukan karena kita kekurangan seminar tentang Pancasila. Bukan pula karena jumlah peringatannya masih kurang banyak. Yang menjadi persoalan adalah kecenderungan menjadikan Pancasila sebagai dekorasi moral. Ia selalu hadir saat dibutuhkan untuk pidato, tetapi sering menghilang ketika dibutuhkan untuk mengambil keputusan.
Kita hidup di masa ketika nilai lebih mudah diproduksi dalam bentuk desain daripada diwujudkan dalam tindakan. Satu unggahan tentang kebangsaan bisa dibuat dalam hitungan menit, tetapi membangun budaya kampus yang kritis, adil, dan inklusif membutuhkan kerja yang jauh lebih panjang. Dan seperti banyak hal lainnya, manusia tampaknya memang lebih menyukai yang praktis.
Hari Lahir Pancasila seharusnya menjadi momen untuk bertanya dengan jujur: apakah kampus masih menjadi ruang yang menumbuhkan keberanian berpikir, keberanian mengkritik, dan keberanian membela kepentingan publik? Ataukah kita hanya sedang memproduksi lulusan yang hafal nilai-nilai Pancasila, tetapi tidak pernah benar-benar diajarkan bagaimana memperjuangkannya?
Sebab ancaman terbesar bagi Pancasila hari ini bukanlah mereka yang menolaknya secara terang-terangan. Ancaman terbesar justru datang dari mereka yang mengucapkannya setiap tahun, memajangnya di setiap sudut ruangan, tetapi perlahan membiarkannya kehilangan makna dalam kehidupan sehari-hari.
Pada akhirnya, Pancasila mungkin tidak sedang dalam bahaya. Ia tetap aman dalam buku, pidato, dan pamflet. Yang patut dikhawatirkan justru kita, yang semakin terbiasa merayakan nilai tanpa merasa perlu menjalankannya. Itu bakat yang cukup mengagumkan, sekaligus cukup menyedihkan.
Penulis: Madona
Editor: Tim Redaksi

Tinggalkan Balasan