Mengapa Kritik Sering Dianggap Pemberontakan, Makar atau Narasi yang menyesatkan
lpmgraffity.com-Kritik sering kali tidak dinilai dari isinya, melainkan dari siapa yang menanggapinya.
Bagi kalangan intelektual dan akademisi, kritik adalah bagian dari tradisi berpikir. Ia dipahami sebagai masukan, koreksi, sekaligus fungsi kontrol terhadap kekuasaan. Dalam dunia ilmu pengetahuan, perbedaan pendapat bukan ancaman melainkan energi untuk memperbaiki keadaan.
Namun, cara pandang itu berbeda ketika seseorang dibentuk dalam kultur yang sangat menekankan hierarki, kepatuhan mutlak, dan disiplin komando. Dalam lingkungan seperti itu, perintah atasan adalah kewajiban yang tak boleh digugat. Loyalitas diukur dari kepatuhan, bukan dari keberanian menyampaikan kebenaran. Maka kritik mudah diterjemahkan sebagai pembangkangan. Perbedaan sikap dianggap ancaman terhadap otoritas.
Akibatnya, ketika kepemimpinan baik dalam kampus, perusahaan, maupun pemerintahan didominasi oleh pola pikir komando, kritik tidak lagi dipandang sebagai kontrol sosial, melainkan gangguan yang harus disingkirkan. Bukan substansi kritik yang dipersoalkan, tetapi keberanian orang yang mengucapkannya. Bahkan tak jarang, kritik dilabeli sebagai makar agar legitimasi pembungkamannya tampak sah.
Di titik ini, persoalannya bukan lagi soal benar atau salahnya kritik. Persoalannya adalah mentalitas kekuasaan. Kekuasaan yang percaya diri akan membuka ruang koreksi. Kekuasaan yang rapuh justru alergi terhadap suara berbeda.
Karena itu, ketika kritik dibungkam dan pelontarnya dicurigai sebagai pemberontak, yang patut dipertanyakan bukan niat pengkritik melainkan ketahanan moral dan intelektual dari pihak yang berkuasa.
Demokrasi hidup dari kritik. Otoritarianisme hidup dari ketakutan terhadapnya.
Penulis

Tinggalkan Balasan