Ketika Kandidat Menghilang dari Ruang Uji Publik
lpmgraffity.com-Di tengah berbagai keluhan mahasiswa mengenai apatisme organisasi dan tersumbatnya birokrasi kampus, Lembaga Debat Mahasiswa Hukum (LEBAH) menggelar Dialog Kepemimpinan pada Rabu (3/6/2026). Forum yang mengusung tema “Menguji Kepemimpinan yang Responsif, Solutif, Berdampak, serta Konkret Berpihak pada Mahasiswa” itu sejatinya dirancang sebagai ruang adu gagasan bagi dua pasangan calon Presiden dan Wakil Presiden DEMA UIN Palopo 2026.
Subtema yang diangkat pun tidak ringan: “Apatisme Mahasiswa dan Sumbatan Birokrasi: Langkah Kritis 100 Hari Pertama Paslon dalam Mengeksekusi Solusi.” Sebuah tema yang menuntut keberanian berbicara, kemampuan menjawab kritik, dan kesiapan diuji di hadapan publik mahasiswa.
Namun, forum yang seharusnya mempertemukan dua kandidat justru hanya dihadiri Paslon 02, Mustaqbal Idris dan Tawakkal. Sementara Paslon 01, Doni dan Haikal, tidak tampak hadir hingga penghujung dialog.
Menurut keterangan yang diterima panitia, ketidakhadiran Paslon 01 disebabkan karena mereka tidak mendapatkan izin dari tim sukses untuk mengikuti dialog tersebut. Alasan ini justru memunculkan pertanyaan baru yang lebih besar daripada jawaban yang diberikan.
Jika benar keputusan tidak hadir ditentukan oleh tim sukses, lalu siapakah yang sebenarnya sedang mencalonkan diri sebagai Presiden Mahasiswa? Kandidat atau tim suksesnya?
Pertanyaan lain yang juga muncul adalah mengenai proses komunikasi sebelum kegiatan berlangsung. Sebab publikasi acara telah beredar sejak beberapa hari sebelumnya dan memuat foto kedua pasangan calon. Jika sejak awal terdapat keberatan, mengapa hal tersebut tidak disampaikan secara terbuka? Jika sebelumnya telah ada persetujuan, mengapa keputusan berubah ketika forum tinggal menghitung jam? Ataukah Paslon 01 menganggap forum ini hanyalah ruang tidak resmi yang tidak perlu dihadiri kalau begitu empatinya perlu dipertanyakan.
Bagi mahasiswa, persoalan ini bukan semata soal hadir atau tidak hadir dalam sebuah kegiatan. Yang dipertaruhkan adalah komitmen terhadap ruang dialog. Sebab menjadi Presiden Mahasiswa berarti bersedia mempertanggungjawabkan gagasan di hadapan publik, bukan hanya menyampaikan janji melalui baliho, pamflet, dan slogan kampanye.
Ironisnya, forum yang membahas apatisme mahasiswa justru diwarnai absennya salah satu kandidat dari ruang diskusi yang disediakan. Mahasiswa yang datang berharap mendengar gagasan dari kedua belah pihak, tetapi yang mereka temukan adalah satu kursi kosong yang mungkin lebih banyak menimbulkan pertanyaan daripada seribu poster kampanye.
Sebab pada akhirnya, mahasiswa tidak hanya memilih program kerja. Mereka juga sedang menilai keberanian kandidat untuk hadir ketika pertanyaan sulit mulai diajukan.
Hingga berita ini diterbitkan, Paslon 01 belum memberikan penjelasan resmi terkait alasan ketidakhadirannya dalam Dialog Kepemimpinan LEBAH. Redaksi membuka ruang hak jawab dan klarifikasi bagi pihak terkait.
Penulis: Merona
Editor: Tim Redaksi

Tinggalkan Balasan