Kaki Kecil Yang Melangkah Begitu Jauh Demi Pendidikan Yang Masih Tertinggal di daerah Pelosok

0

 

Lpmgraffity.com-Suatu hari Relawan pendidikan yang tergabung dalam Komunitas Koin Untuk Negeri (KUN Cabang Palopo), melakukan pengabdian diDesa Batu Putih, Kec.BurauKab. Luwu Timur, sulawesi Selatan tepatnya di SD Buntu Lumu, dengan tujuan untukmengajar dengan sukarela di SD tersebut hanya memiliki tenaga pengajar hanya dua sajayaitu ibu Hajar dan ibu Hasni dan terdapaat 20 siswa, karena lokasi SD Buntu Lumu ini sangat jauh dari perkotaan dengan medan jalan yang sangat sulit ditempuh sehingga hal itumenjadi pertimbangan tenaga pengajar untuk mengajar di SD Buntu Lumu, Rabu(29/5/2024).

Buntu Lumu ada diujung dari desa Batu Putih sehingga letaknya sangat jauh dari perkotaan begitupun akses untuk sampai kesana sangat sulit terlebih jika jalannya dalam kondisi basah, untuk sampai di buntu lumu waktu yang ditempuh sekitar 5-6 jam dan sebagian perjalanan tidak bisa menggunakan kendaraan melainkan jalan kaki, 3 jam naik motor dan 2 jam jalan kaki.

Buntu Lumu merupakan desa yang minim dalam mendapat sentuhan pembangunan seperti listrik, jaringan dan jalan yang masih belum beraspal, di desa ini masih dikelilingi pohon— pohon yang masih susah di temukan di perkotaan, udara yang sejuk jauh dari keributan dan pasar yang jaraknya jauh dari desa Buntu Lumu.

Berada di daerah terpencil, sebuah Sekolah di SDBuntu Lumu ini memiliki gedung sekolahyang masih menggunakan kayu bahkan kayu yang digunakan sebagian dimakan rayap, beralas tanah dan atap yang bocor.

Sementara kelasnya hanya 3 kelas saja dalam satu bangunan dengan luas 6 x3 yang seharusnya memiliki 6 kelas.

Saat hujan tiba, kondisi mereka dalam menuntut ilmu mengundang air mata beberapa relawan, atap yang sudah bocor, kaki kecil mereka terkena lumpur karena ruang kelas yang becek membuat tanah semakin lembek hal ini membuat kegiatan belajar mengajar tidak kondusif.

Sementara jarak rumah siswa dengan sekolah sangat jauh yaitu 30 menit berjalan kaki untuk sampai ke sekolah bahkan ada siswa yang tidak menggunakan alas kaki ke sekolah. Kaki– Kaki kecil mereka terus berjalan melewati pegunungan yang jalannya hanya setapak danterdapat jurang yang bahkan ada binatang buasyang bisa mengancam nyawa, kaki yang bersih dari rumah sampai di sekolah tidak lagi terlihat bersih tetapi penuh dengan lumpur.

Siswa di perkotaan tidak terlepas dari uang jajan sedangkan siswa di SD Buntu Lumu tidak membawa uang karena jarak sekolah ke warung sangat jauh karena itu mereka tidak jajan melainkan membawa bekal bahkan mereka makan jika hanya pulang dari sekolah yang jaraknya kurang lebih 30 menit dari sekolah kerumah.

Senyum yang ikhlas dan tulus itu sangat terlihat di siswa Buntu Lumu yang saat dilihat bisa menghilangkan rasa lelah dan tertampar karena kegigihan mereka untuk tetap mendapatkan pendidikan, kaki yang tidak pernah mengenal lelah dan di setiap perjalanan mereka ke sekolah tidak pernah berhenti di tengah jalan untuk istirahat bahkan mereka tepat waktu ke sekolah.

Semangat belajar yang menjadi hal yang menarik di SD Buntu Lumu yang tidak seperti diperkotaan dalam menuntut ilmu di pelosok negeri untuk mencapai cita-citanya, salah satu siswa di SD Buntu Lumu pernah mengatakan bahwa dia ingin menggapai cita-citanya untuk membantu orang tuanya yang sering kerumah sakit untuk berobat.

“ kakak relawan saya ingin jadi dokter supayakalau mamak saya sakit saya bisa mengobatitanpa ke rumah sakit karena rumah sakit darirumahsaayasangatjauh” Ucapnya.

Begitu banyak cita-cita siswa di SD Buntu Lumuyang ingin mereka wujudkan dan semua cita-citaitu ada karena peristiwa yang mereka alami sepertimenjadidokteruntukorang tuanya.

Lingkungan dan pendidikan di SD Buntu Lumu merupakan kunci utama penanaman karakter dan akhlak siswa, lingkungan yang masih alami jauh dari kata mewah yang menjadi faktor munculnya sifat tidak menyerah terhadap yang ingin dicapai terutama dalam menggapai cita-citanya.

Pendidikan yang masih tertinggal di daerah pelosok masih banyak di indonesia yang belum mendapatkan sentuhan dari pemerintah, mulai dari akses yang susah, minimnya guru,fasilitas yang tak layak, tingkat ekonomi yang rendah dan pola pikir.

Beberapa hal tersebut yang membuat masih banyak sekolah yang ada di pelosok yang perlu perbaikan dari pemerintah.

Indonesia adalah negara kaya raya, selain memiliki sumber daya alam yang melimpah, sumber daya manusianya lebih dari cukup, aset terbesar bangsa ini adalah generasi berikutnya yang saat ini masih banyak yang belum tersentuh pendidikan yang didapatkan terkesan minimalis bahkan kekurangan, dan hal tersebut tidak harus menunggu pemerintah melainkan dengan kepedulian sesama.

Dari pengalaman relawan tersebut Tempat pendidikan yang ada tidak layak digunakan, dimana para murid belajar dengan fasilitas seadanya dan penyebab para guru yang sangat kurang untuk mau mengajar di pelosok atau tidak ingin menetap karena minimnya fasilitas atau akses untuk kesana dan gaji yang tak seberapa.

Kemudian, peristiwa ini membuat kita menyaksikan pendidikan di indonesia masih menimpang dan ketidakadilan yang tidak merata dan hingga saat ini masih sulit mendapatkan perhatian pemerintah.

Senyuman dan semangat siswa di SD Buntu Lumu yang membuat motivasi untuk menghargai apa yang diberikan untuk kita terutama dalam pendidikan, menggunakan fasilitas sebaik mungkin untuk mencapai cita-cita dengan terus mengutamakan pendidikan dan menjadikan lingkungan sebagai media pembelajarannya.

Penulis: Siti Rahmania Tussani