Di Balik Penundaan Perhitungan Suara Pemilma 2026
lpmgraffity.com-Ketika sebagian mahasiswa mulai menanti hasil perolehan suara dan pasangan calon bersiap memasuki tahap penentuan, proses Pemilihan Mahasiswa (Pemilma) 2026 justru memasuki babak yang tak terduga. Perhitungan suara yang semestinya dilaksanakan setelah penutupan TPS pada Kamis (4/6/2026) mendadak ditunda, memunculkan tanda tanya di tengah antusiasme mahasiswa yang telah mengikuti proses pemungutan suara sejak pagi.
Padahal, hingga berakhirnya masa pencoblosan, pelaksanaan Pemilma berjalan relatif kondusif. Pemungutan suara untuk Dewan Mahasiswa Universitas (DEMA-U), DEMA Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam (FEBI), serta Fakultas Ushuluddin, Adab, dan Dakwah (FUAD) dilaksanakan di Pelataran Auditorium. Sementara itu, pemungutan suara untuk DEMA-U, DEMA Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan (FTIK), serta Fakultas Syariah (FASYA) berlangsung di Lapangan Tenis kampus.
Namun suasana berubah menjelang tahapan penghitungan suara. Hingga pukul 16.00 WITA, perhitungan yang dinantikan mahasiswa belum dapat dilaksanakan. Berdasarkan informasi yang dihimpun, penundaan terjadi karena Ketua Komisi Pemilihan Mahasiswa (KPM) tidak hadir dalam proses tersebut.
Tak lama setelah pengumuman penundaan disampaikan, situasi di sekitar lokasi kegiatan sempat memanas. Berdasarkan pengamatan langsung reporter di lapangan, terdengar tiga kali letusan dari sekitar area kegiatan yang sontak memicu kepanikan di kalangan mahasiswa. Sejumlah mahasiswa terlihat berlarian meninggalkan lokasi dan mencari tempat yang dianggap lebih aman.
Sejumlah saksi di lokasi menduga letusan tersebut berasal dari papporo, senjata api rakitan yang dikenal di wilayah Palopo. Meski demikian, hingga berita ini diterbitkan belum terdapat keterangan resmi yang dapat memastikan sumber letusan maupun pihak yang bertanggung jawab atas insiden tersebut.
Penundaan perhitungan suara turut memunculkan beragam tanggapan dari masing-masing pasangan calon. Capres nomor urut 01, D, menilai polemik yang terjadi tidak dapat dilepaskan dari adanya campur tangan birokrasi dalam proses Pemilma.
“Kami melihat adanya keterlibatan birokrasi yang turut memengaruhi situasi yang terjadi saat ini,” ujarnya.
Sementara itu, pihak pasangan calon nomor urut 02 memilih menunggu hasil rapat yang akan dilaksanakan sebelum memberikan penilaian lebih lanjut. Mereka berharap seluruh tahapan Pemilma tetap berjalan sesuai mekanisme yang berlaku dan berlangsung secara kondusif.
Di sisi lain, pihak Komisi Pemilihan Mahasiswa (KPM) belum memberikan penjelasan resmi terkait alasan ketidakhadiran ketuanya maupun proses yang menyebabkan penghitungan suara harus ditunda. Hingga berita ini diterbitkan, upaya konfirmasi yang dilakukan kepada pihak KPM belum memperoleh tanggapan.
Belum adanya penjelasan resmi terkait penundaan tersebut membuat berbagai pertanyaan bermunculan di kalangan mahasiswa. Di tengah tingginya partisipasi pemilih dan harapan akan proses demokrasi yang transparan, publik kampus kini menanti kepastian mengenai kelanjutan tahapan Pemilma 2026 serta penghitungan suara yang akan menentukan hasil kontestasi.
Penulis: Tim Redaksi

Tinggalkan Balasan